Home » Oase Iman » Putri Cina
Advertisement
Donasi Buku Panduan Bulan Ramadhan

cadar Putri CinaAku tak tahu kapan ia datang. Begitu aku memasuki ruangan yang penuh sesak oleh dipan-dipan kecil itu selepas sholat subuh, ia sudah terbaring di dipan besi tepat di hadapan dipan Mujahid, putra keduaku. Ia, ayahnya, dan juga ibunya tengah tidur lelap kala itu. Ibunya tidur di sampingnya sambil memeluknya. Ayahnya tidur sambil duduk di kursi plastik yang disediakan rumah sakit itu dengan kepala ditopangkan ke bibir dipan. Mereka bertiga tampak kelelahan. Hari itu adalah hari ketiga atau hari terakhir Mujahid dirawat di ruangan itu. Sebuah ruang perawatan kelas tiga untuk kanak-kanak di Hospital Sulthanah Aminah, Johor Bahru, Malaysia.

Aku tak mengenal kedua orang tuanya. Aku pun tak tahu siapa namanya. Menurutku, umurnya lebih empat tahun tapi belum cukup lima tahun. Tubuhnya kurus, bahkan teramat kurus. Tulang-tulangnya seperti ingin berloncatan keluar. Kulitnya yang putih bersih terlihat sangat pucat. Bibirnya pun tampak memutih seolah tak ada aliran darah melewatinya. Di beberapa bagian tubuhnya yang terbuka kulihat lebam-lebam hijau membayang. Aku jadi bertanya-tanya, penyakit apa yang diderita oleh gadis kecil keturunan cina itu.

Pagi menjelang dhuha, seorang dokter perempuan berwajah melayu dan berbaju kurung datang menghampiri kedua orang- tuanya. Dengan seksama kuperhatikan adegan di depanku.

Advertisement
Pasang Iklan Di Sini

“Maaf, Tuan dan Puan… Saya nak tanya sikit tentang anak Tuan dan Puan,” ucap sang dokter dengan logat melayu kental.

“Ya…,” jawab Ibu dan Ayahnya serempak. Ayahnya segera berdiri sementara Ibunya tetap duduk di dipan itu sambil memangkunya.

“Ini anak ke berapa?” tanya dokter itu lagi.

“Satu… Anak saya satu je… ini pun susah nak dapat,” jawab ibunya dengan logat Cina.

“Ada kelainan apa-apa atau kekurangan darah semasa mengandung dia dulu?”

“Tidak,” geleng Ibunya. Wajahnya tampak tegang.

“Dalam tubuh kita ni, ada tiga macam darah. Yang pertama darah merah. Yang kedua darah putih. Yang ketiga pembeku darah. Dari hasil cek darah dia tadi malam, ketiga-tiganya kurang pada tubuhnya. Jauh dibawah normal…”

Aku melihat air mata menggenang di mata Ibunya. Hidung ibunya mulai memerah. Aku tak bisa mengalihkan pandanganku darinya sedikit pun.

“Ini banyak hijau-hijau lebam di tubuhnya. Kalau diagnosa sementara kemungkinan anak Tuan dan Puan terkena kanker darah. Nanti kita akan cek lagi dengan mengambil cairan dari tulang punggungnya…”

“Sakitkah dokter?” Ibunya bertanya dengan bibir gemetaran.

“Tidak, karena dia akan kita tidurkan terlebih dahulu.”

Air mata Ibunya mengalir deras sambil menangis tanpa suara. Beberapa tetes jatuh di atas kepalanya. Ia menengadah ke wajah Ibunya dengan raut muka kebingungan. Berikutnya ia juga menangis terisak sambil memeluk tangan Ibunya.

Sementara aku susah payah menahan gemetar di rahangku. Berkali-kali kututup kelopak mataku agar tak ada sesuatu yang tumpah di sana. Tapi cairan bening itu tetap menetes di kedua pipiku. Aku segera berjalan ke arah jendela menatap lautan biru yang memisahkan semenanjung Malaysia dengan pulau Singapura. Aku tak ingin terlihat menangis.

Kuseka air mata. Allah memberiku dua putra dan seorang putri. Mereka tumbuh sehat dan normal. Walau Mujahid dan Widad, putri bungsuku, mengidap penyakit asma, tapi mereka masih bisa menjalani hidup ini dengan ceria. Kondisi mereka jauh lebih baik dari si putri Cina.

“Fabiayyi aalaa irabbikumaa tukazzibaan. Dan nikmat Rabbmu yang mana lagikah yang kamu dustakan ?” kalimat indah itu berbisik lembut di telingaku.

Siang menjelang Dzuhur, aku bersiap meninggalkan ruangan itu bersama Mujahid. Sebelum melangkahkan kaki ke pintu kupalingkan kepala untuk kembali menatap wajah pucatnya. Ia sedang bermain boneka donal bebek berwarna biru berparuh hitam, yang berukuran separuh badannya, bersama Ayahnya. Wajah ayahnya tampak begitu tegar. Berkali-kali ia mencium kepala dan memeluk tubuhnya. Sedangkan Ibunya tetap terisak sambil memegang kertas tisu yang tiap sebentar di sapukan ke matanya. Hidung Ibunya masih memerah.

Aku tak bisa menolak, ketika hatiku melontarkan permintaan pada pemilik alam semesta.
“Ya Allah… sembuhkanlah si putri Cina…”

(Secebis kisah di Hospital Sultanah Aminah, Johor Bahru, Malaysia)
yessianggraini.blogdetik.com
(Yessi Anggraini/eramuslim.com)

Download This Article in PDF File with


If You Like "Putri Cina", Share This to Your Friends

Digg
stumbleupon
Delicious
facebook
twitter
reddit
lintasberita
Print Friendly and PDF

Related Post for Putri Cina


  • Alhamdulillah! PP Muhammadiyah Pun Menolak Dialog dengan Irshad Manji


    Alhamdulillah! PP Muhammadiyah Pun Menolak Dialog dengan Irshad Manji
    Alhamdulillah! PP Muhammadiyah Pun Menolak Dialog dengan Irshad ManjiReviewed by Admin on May 3Rating: 4.5Semula diagendakan, Pimpinan Pusat Muhammadiyah akan mengadakan pertemuan dan dialog dengan tokoh feminis lesbi Irshad Manji pada pada 4 Mei 2012 di gedung PP Muhammadiyah, jalan Menteng Raya No. 62, Jakarta, akhirnya dibatalkan. Namun, tidak dijelaskan alasan kenapa Muhammadiyah membatalkan pertemuan

  • Inilah Penilaian Ngawur Ulil Absar Abdalla Tentang Irshad Manji


    Inilah Penilaian Ngawur Ulil Absar Abdalla Tentang Irshad Manji
    Inilah Penilaian Ngawur Ulil Absar Abdalla Tentang Irshad ManjiReviewed by Admin on May 2Rating: 4.5Dalam sebuah situs islamlib.com, yang berjudul Irshad Manji pada 05/06/2005, dedengkot Jaringan Islam Liberal (JIL), Ulil Abshar Abdalla mengaku menikmati buku Irshad Manji, The Trouble with Islam Today. Kata Ulil, dia bukan seorang sarjana muslim. Tapi dengan jujur, ia telah mengungkapkan

  • Meluruskan Pemahaman Habib Rizieq Shihab (3)


    Meluruskan Pemahaman Habib Rizieq Shihab (3)
    Meluruskan Pemahaman Habib Rizieq Shihab (3)Reviewed by Admin on Apr 30Rating: 4.5Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kepada kita nikmat Islam dan nikmat di atas Sunnah dan menghindarkan kita dari jalan kesesatan. Semoga Allah menetapkan kita di atas kebenaran, di atas jalan yang ditempuh Rasulullah dan Sahabatnya. Shalawat dan salam kita mohonkan kepada Allah


blog comments powered by Disqus

YGenNet in Facebook

YGenNet in Twitter