Home » Oase Iman » Si Mbah
Advertisement
Donasi Buku Panduan Bulan Ramadhan

wanita Si MbahSaat dahulu saya masih berseragam coklat coklat, setiap kamis minggu kedua setiap bulan, adalah jadwal saya berkunjung ke sebuah panti Wredha milik Dinas Sosial Propinsi di kota saya. Ditemani seorang perawat dan seorang Sopir kantor, jam 10. 00 WIB saya berangkat ke sebuah bangunan sederhana tempat tinggal Simbah-Simbah teman-teman saya.

Setiba di sana, mobil kami parkir agak jauh dari pintu masuk, sengaja agar kami bisa jalan kaki sambil menyapa Simbah-Simbah yang duduk berjemur di halaman panti.

“Assalamu’alaykum, selamat pagi Mbah…” begini kami bertiga biasa menyapa mereka. Walau jam sudah jam 10 siang, tapi bagi Simbah-Simbah, ini masih pagi, bisa bisa mereka protes bila kami sapa selamat siang. Dengan semangat Simbah-Simbah akan koor menjawab salam kami, dengan disertai senyum dan tawa khas mereka, khas dengan gigi ompong dan suara serak rentanya.

Advertisement
Pasang Iklan Di Sini

Selanjutnya aktivitas dimulai dengan pemeriksaan rutin di klinik panti, satu persatu simbah simbah yang masih sehat (masih bisa berjalan ke klinik) datang ke ruang periksa, untuk yang tidak bisa datang ke klinik akandi kunjungi ke kamar masing-masing setelahnya.

Di sinilah hati saya mulai biru. Satu persatu mereka mengeluhkan dan menceritakan apa yang dirasakan, “Kepala saya sakit Bu, suka nyut nyut,” “Ini lho sendi sendi kok tambah kaku saja kalo dibuat gerak,” “Perut ini lho Nak (beberapa memanggil saya nak) rasanya sebah terus, jadi nggak enak makan,” “Ini lho alergi dikaki kumat lagi, kalo malem gatelnya minta ampun, nanti dikasih saleb ya nduk,” atau kesah-kesah lain, keluhan wajar seorang Geriatri, sebuah keluhan, ah tepatnya hanya kilasan fisik dan bathin mereka yang merenta. Saya pun sebenarnya tahu, beberapa dari mereka tidak sedang sakit apapun, hanya ingin bercerita saja, atau mencari cari alasan agar diperiksa.

Sambil memeriksa saya dengarkan saja apa yang mereka rasakan. Sambil sesekali menimpali dan ngguyoni, “Wah Simbah sekarang tambah seger dan cantik ya,” puji saya, “Hati-hati lho Mbah nanti ada yang naksir,” yang dipuji senyum-senyum cerah. Kali lain, “Iya Mbah gimana nggak batuk, wong kata Mbak Ruroh (perawat panti) Simbah merokok lagi sembunyi-sembunyi tho?” Kadang mereka menjual barang-barang pribadi mereka yang tak seberapa, seperti baju misalnya ke tukang loak yang mampir depan panti, sekedar untuk jajan beli biskuit, rokok, dll. Kali lain lagi, “Wah Simbah saya diajari ngaji dong, kata Bu Narti (pendamping di panti) simbah rajin ngaji ke Musholla ya?” Begitulah saya berusaha menghibur hati-hati yang kesepian itu agar bisa tersenyum, biarpun sekejap.

Berlebihan rasanya bila saya ingin agar mereka merasakan bahwa mereka ada yang memperhatikan. Walau sebenarnya saya ingin itu yang mereka rasakan. Ya perhatian, perhatian tulus itulah yang mereka butuhkan, mereka sebenarnya tak banyak menuntut, saya tahu mereka orang orang yang tahan, menahan kepedihan untuk tidak menuntut apa-apa kepada orang lain. Mereka sudah terbiasa merasakan kegetiran di hari-hari tua mereka. Ada seorang penderita hernia sebesar bola tenis yang sudah inoperable, karena kondisi fisiknya, saya tahu alangkah berat dan menyakitkannya apa yang dialaminya tapi Simbah ini tetap bisa tersenyum dan mengatakan, “Saya kuat Bu Dokter, saya dulu pejuang kemerdekaan, kalo dulu saya tidak menangis saat kaki saya tertembak, masak sekarang sakit begini sajayanggak berdarah-darah saya gak tahan.” Menurut Simbah berdarah-darah berarti parah.

Beberapa orang yang sudah tidak bisa berjalan ditempatkan di ruang tersendiri, walau setiap hari petugas kebersihan membersihkan tempat itu, tetap saja aroma pesing dan menusuk hinggap ke hidung, bagaimana tidak, setiap saat mereka maaf BAB dan BAK di tempat itu juga.

Ah ngilu rasanya hati saya, melihat tubuh tubuh kering dan layu itu terbaring tanpa daya, kaki tua dan lemah mereka terlihat kurus tanpa ada yang pernah memijati, rambut putih kusam beruban mereka tanpa ada yang membelai dan menyisir.

Sayapun jadi teringat, bagaimana Mbah Kakung saya dulu sering minta ubannya dicabuti oleh cucu-cucu-nya, tangantanagn kecil kami waktu itu justru hanya mengoyak-ngoyak sisiran rapi rambut Mbah Kung. Sebuah kenangan yang tidak saja manis untuk saya tapi juga mungkin bagi Mbah Kung di hari tuanya.

Lalu bagaimana dengan Simbah-Simbah di panti ini? Ke mana anak-anak dan cucu mereka? Tak adakah sanak saudara? Apa yang menyebabkan orang orang yang katanya kerabat itu merelakan Ayah, Ibu, saudaranya kesepian di tempat ini di usia yang membuat mereka tak lagi berdaya, atau memang sudah nasibnya simbah mesti berada di sini saat ini?

Tapi hati saya seperti belum bisa terima, karena tidak semua penghuni panti ini gelandangan dan orang-orang yang sebatang kara, beberapa masih banyak yang sebenarnya mempunyai keluarga, bahkan anak-anak kandungnya, tapi dimana mereka?

Mereka tidak pernah menjenguk kecuali sekali setahun di hari raya, bila masih sempat dan belum lupa, atau menjenguk untuk minta tanda tangan untuk urusan warisan dan semacamnya. Hah?!

Kemiskinan, kesibukan, selalu menjadi alasan untuk meninggalkan simbah di sini. Atau dulu Simbah tak sempat mengajarkan kepada anak-anaknya tentang perintah bakti kepada orang tua?

“Beribadahlah kalian kepada Allah dan janganlah mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua…” (QS. An Nisa’ [4] : 36)

Jangankan menelantarkan, mengatakan “Ah” saja kepada orang tua adalah perbuatan tercela.

“Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kalian jangan beribadah kecuali kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau keduanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu maka sekali-kali janganlah mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak keduanya dan ucapkanlah kepada keduanya ucapan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Wahai Rabbku, kasihilah mereka berdua sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil’.” (QS. Al-Isra’ [17] : 23-24)

Sampai di sini saya sudah kehabisan kata-kata, untuk menggambarkan lagi apa bagaimana Simbah, teman-teman saya ini. Saya hanya berharap semoga selalu ada titik bahagia menghampiri hati Simbah di akhir-akhir masa hidupnya, bahagia yang datang berupa apa saja, dari siapa saja. Meski bukan dari kerabat sedarahnya.

Dan kita adalah kerabat seimannya, ada hak Simbah untuk kita hormati, kita gembirakan, kita doakan, sekaligus kepada simbah kita belajar agar kita mesti sedini mungkin membantu anak-anak kita belajar tentang bakti pada orang tua sehingga kelak anak-anak kita tidak ‘semalang’ anak-anak Simbah yang lupa kepada orang tuanya.

Di halaman samping panti, ada sepetak tanah kosong tanpa bangunan dengan beberapa pepohonan menaungi beberapa nisan dibawahnya. Di sanalah beberapa dari teman Simbah terdahulu, yang wafat dan tak ada keluarga yang menjemput, beristirahat untuk selamanya. Sebuah keranda besi di geletakkan begitu saja di sisi lahan yang berdekatan dengan tembok bangunan, sepi dan bisu.

Setiap pagi saat jendela kamar Simbah dibuka, lahan samping ini manjadi pemandangan rutin dan biasa yang bisa dinikmati para Simbah. Tak ada Simbah yang protes soal kenapa rumah masa depan itu mesti bersebelahan dengan bangunan kamar-kamar Simbah, mungkin karena Simbah sudah merasa, lahan di samping itu adalah juga rumahnya, rumah sahabat-sahabatnya, saat mesti istirahat selamanya, saat mesti berpulang kepadaNya. Saatnya nanti tiba, yang mungkin tidak lama lagi.

(Antara Jinju dan Bondowoso; 7 September 2007)[Ina Sulistyani/eramuslim.com]

Download This Article in PDF File with


If You Like "Si Mbah", Share This to Your Friends

Digg
stumbleupon
Delicious
facebook
twitter
reddit
lintasberita
Print Friendly and PDF

Related Post for Si Mbah


  • Sahkah Nikah Sirri


    Sahkah Nikah Sirri
    Sahkah Nikah SirriReviewed by Admin on May 6Rating: 4.5Nikah sirri dalam fiqih kontemporer lebih dikenal dengan istilah nikah ‘urfi (zawaj ‘urfi). Nikah ‘urfi adalah suatu pernikahan yang memenuhi syarat-syarat pernikahan tetapi tidak dicatat secara resmi oleh pegawai pemerintah yang menangani pernikahan (baca: KUA). Dari sini, dapat kita pahami bahwa sebenarnya tidak ada perbedaan yang menonjol

  • Menkes Kontroversi Namru 2 Meninggal Dunia


    Menkes Kontroversi Namru 2 Meninggal Dunia
    Menkes Kontroversi Namru 2 Meninggal DuniaReviewed by Admin on May 2Rating: 4.5 Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih meninggal dunia. Menkes Endang meninggal pada Rabu (2/5/2012) pukul 11.50 WIB di RSCM Kencana. “Ibu Menkes sudah pergi 2 menit lalu. Masih di RSCM,” kata suami Menkes, dr Reanny Mamahit, seperti dilaporkan

  • Bau Busuk Syiah Akhirnya Tercium Juga


    Bau Busuk Syiah Akhirnya Tercium Juga
    Bau Busuk Syiah Akhirnya Tercium JugaReviewed by Admin on May 2Rating: 4.5Pepatah kita mengatakan : “Sepandai-pandainya menutup barang busuk akhirnya tercium juga” Seorang penyair Arab berkata : ومَهما تكُنْ عندَ امرىء ٍ من خليقةٍ  وإنْ خالَها تَخفَى على النّاسِ تُعلَمِ “Bagaimanapun perangai buruk seseorang meskipun ia menyangka perangainya tersebut tidak nampak oleh manusia maka akan


blog comments powered by Disqus

YGenNet in Facebook

YGenNet in Twitter