Home » Artikel Islami » Cinta Bersemi Sesama Aktivis
Advertisement
Donasi Buku Panduan Bulan Ramadhan

love allah Cinta Bersemi Sesama AktivisSeorang akhwat tertunduk malu. Ia merenungi dirinya yang kini sedang merasakan hal yang tidak biasa di hatinya. Terutama bila ia mendengar namanya, atau teringat wajahnya, atau hanya sekadar terlintas tentang dirinya. Ia sebenarnya menduga-duga, apakah ini sebuah rasa yang selama ini ditolaknya? Selama ini memang ia dikenal makhluk tanpa cinta. Sikapnya keras, tegas dan tanpa ampun bila berhadapan dengan sosok bernama pria. Ia bahkan relatif ‘bengis’ bila harus membicarakan sosok berjenggot dan berkopiah itu. Baginya, pria hanya perlu dibicarakan bila nanti sudah akan menikah. Karena kini ia masih sendiri, maka tak perlu membahasnya terlalu dini.

Namun, tidak diduga, tidak pula dinyana. Perasaan itu menyerang tiba-tiba. Ia tidak mengundangnya, tapi seolah hatinya tidak bisa menolaknya. Semakin ia tolak, semakin gencar perasaan itu menyerang. Awalnya padahal hanya soal-soal sederhana. Soal dia yang selalu menghubungi dengan kata manis dan nasihat agamis. Soal dia yang selama ini selalu memberi komentar dalam setiap status facebooknya. Soal dia yang selalu bertanya kabar kepada temannya, saat si akhwat tidak hadir di rapat kerja. Pfffhh…awal-awal yang sederhana itu secara kompak dan meyakinkan telah membuat hatinya gundah gulana.

Tak cukup itu, wajah si pria yang selama ini ia hindari, ternyata justru nempel di hati tak mau pergi. Terbayang senyumnya, terbayang suara tawanya, dan mungkin terbayang cara dia bicara dan sikap biasanya itu. Semua bayangan itu menteror diri setiap hari, setiap jam dan setiap detik menghampiri.

Advertisement
Pasang Iklan Di Sini

Segala vitamin, suplemen hati dan beraneka cara antisipasi sudah dilakukan. Kajian, taklim, bedah buku, konsultasi sudah dilakukan. Tapi hasilnya nihil. Semua itu tidak mempan. Hanya karena dia pernah sekali memberi kesempatan. Hanya karena dia pernah sesekali memberinya peluang dan harapan. Namun ternyata tindakan yang sesekali itu berakibat fatal. Hatinya tertawan, pikirannya terbelenggu oleh makhluk berjenis kelamin ikhwan.

Oh, kepada siapa kini mengadu. Saat hati bertalu-talu pilu. Konsentrasi buyar pecah mengambang. Pandangan kabur, tak setajam ingatan akan dia. Gundah, gelisah, dan resah dan takut. Takut kehilangan, takut ini sebuah kesalahan, tapi tak tahu harus bagaimana menyudahi segalanya.

Sebenarnya sederhana saja, obat cinta adalah menghilangkan penyebabnya. Kalau penyebabnya si pria yang berwajah tak berdosa itu, maka dia harus dihilangkan dari dirinya. Dijauhkan bayangannya, dihindari pertemuan dengannya, dan dikurangi intensitas interaksi dengan si dia. Apakah itu saja cukup?

Bisa iya, bisa juga tidak. Kalau memang rasa itu baru sebatas simpatik dan naksir belaka, maka boleh jadi semua itu akan kembali normal. Apalagi bila kemudian kita tahu kelemahan dan kecatatan akhlaknya. Kita akan segera sadar bahwa cinta kita telah terbelah. Cinta Allah berkurang, dan beralih kepada si pria yang bercambang.

Tapi bila cinta itu sudah cinta sejati hingga ke dasar hati. Maka penyelesaiannya bisa sangat panjang. Obatnya bisa sangat mahal. Kalau tidak segera dinikahkan, maka akan menjadi penyesalan yang sangat berat di angan. Akan dibawa hingga ke kehidupan di masa depan. Meski tidak memiliki, namun bayangan dia akan selalu menghampiri. Nah, inilah yang selama ini kita khawatirkan.

Inilah CBSA, Cinta Bersemi Sesama Aktivis. Cinta yang selama ini mungkin sebaiknya tidak terjadi sporadis. Terjadi hanya karena kedekatan yang berlebihan, komunikasi yang terlalu sering, dan godaan-godaan yang melenakan. Seharusnya aktivis lebih giat bekerja untuk islam. Tetapi ternyata ujian lawan jenis sudah terbukti ampuh mengkandaskan niat mulia mereka. Fokus mereka berubah, dari umat menjadi akhwat. Dari masyarakat menjadi sebatas mencari pendamping dunia akhirat.

Tulisan ini hanya sekadar introspeksi untuk hati. Setelah sekian lama kita tidak menggubris soal hal ini. Sudah saatnya gerakan islam bangkit dari diri yang selalu berevaluasi. Mungkin pernah sekali, atau dua kali atau bahkan tiga kali kamu merasakan jenis cinta ini. Namun setelah membaca tulisan ini, plis…jangan dilanjutkan lagi. [Burhan Sodiq/voa-islam.com]

Download This Article in PDF File with


If You Like "Cinta Bersemi Sesama Aktivis", Share This to Your Friends

Digg
stumbleupon
Delicious
facebook
twitter
reddit
lintasberita
Print Friendly and PDF

Related Post for Cinta Bersemi Sesama Aktivis


  • Mengaku atau Tidak, Penganut Ajaran Syiah Tetap Sesat


    Mengaku atau Tidak, Penganut Ajaran Syiah Tetap Sesat
    Mengaku atau Tidak, Penganut Ajaran Syiah Tetap SesatReviewed by Admin on May 7Rating: 4.5Usai bedah buku “Potret Ulama” di Masjid kompleks Darul Hikam wal Ihsan, Bandung, pada Ahad (6/5/2012), KH Athian Ali Muhamad Da’i,  selaku Ketua Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI), menerangkan tentang status para dai yang menyebarkan agama Syiah.   “Mereka yang berkeyakinan terhadap paham-paham

  • Sahkah Nikah Sirri


    Sahkah Nikah Sirri
    Sahkah Nikah SirriReviewed by Admin on May 6Rating: 4.5Nikah sirri dalam fiqih kontemporer lebih dikenal dengan istilah nikah ‘urfi (zawaj ‘urfi). Nikah ‘urfi adalah suatu pernikahan yang memenuhi syarat-syarat pernikahan tetapi tidak dicatat secara resmi oleh pegawai pemerintah yang menangani pernikahan (baca: KUA). Dari sini, dapat kita pahami bahwa sebenarnya tidak ada perbedaan yang menonjol

  • Larangan Berdebat dalam Masalah Agama


    Larangan Berdebat dalam Masalah Agama
    Larangan Berdebat dalam Masalah AgamaReviewed by Admin on May 5Rating: 4.5Ahlus Sunnah wal Jama’ah Melarang Perdebatan dan Permusuhan Dalam Agama. Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang dari hal tersebut. Dalam Ash-Shohihain dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda : اِقْرَأُوْا الْقُرْآنَ مَا ائْتَلَفَتْ عَلَيْهِ قُلُوْبُكُمْ فَإِذَا اخْتَلَفْتُمْ فَقُوْمُوْا عَنْهُ “Bacalah Al-Qur`an selama hati-hati kalian


blog comments powered by Disqus

YGenNet in Facebook

YGenNet in Twitter