
Malam merambat naik, matahari sudah sejak lama berada di peraduannya. Dua puluh empat tahun yang lalu, di salah satu rumah di Jakarta, seorang Ayah sedang asyik bercengkrama dengan kedua anaknya. “Jadi nabi Ibrohim itu menghancurkan berhala sendirian ya Yah?” tanya sang anak laki-laki kepada Ayahnya. Dijawab dengan anggukan dan tatapan sayang Sang Ayah. “Hebat sekali nabi Ibrohim itu ya Yah…” serunya lagi. Seorang anak laki-laki dan gadis kecil dengan serius mendengarkan cerita Nabi Ibrohim a.s dari Ayahnya. ‘Ritual’ menjelang tidur, setelah seharian bermain, adalah satu yang paling ditunggu anak-anak balita itu. Satu episode kecil cinta bersama Ayah yang tak pernah terlupakan.
Suara tilawah harian surat-surat dari Al-Qur’an mengalun merdu dari bibir Sang Ayah. Gadis kecil dengan riang mendengarkan bacaan Qur’an Sang Ayah, sambil sesekali bermain dipangkuannya. Dan Sang Ayah pun tak keberatan dengan gangguan kecil tersebut. Kebiasaan ini hampir rutin dilakukan. Episode kecil lain yang saya ingat bersama Ayah.
Ayahlah yang sering memperkenalkan buku-buku bagus kepada kami, sehingga kami kerajingan membaca. Ayah jugalah yang sering mengajak kami lari pagi dan pulangnya membeli koran untuk dibaca bersama-sama. Seingat saya, hal itulah yang mempercepat berkembangnya kemampuan membaca saya ketika kecil.
Ayah juga yang mengajarkan kami sholat berjama’ah. Setiap bulan Ramadhan, Ayah sering melakukan tarawih sekeluarga. Saat-saat pembelajaran tentang nikmatnya ibadah berjamaah, yang menghidupkan suasana relijius dalam rumah kami.
Ayah, satu kata yang tak pernah lagi terucap sejak saya berusia sepuluh tahun. Karena saat itu, beliau meninggal dunia akibat kanker dan tumor yang dideritanya. Tetapi meskipun meninggal sejak kami kecil, kenangan tentang episode-episode cinta bersama Ayah, tetap hidup dalam memori kami. Sedikit banyak mempengaruhi perkembangan kepribadian kami.
Teringat kisah Luqman a.s yang banyak memberikan nasihat kepada anak-anaknya. Betapa seorang Ayah yang sholih, benar-benar menjalani kewajibannya sebagai pendidik. Berusaha mengarahkan anak-anaknya kepada hal-hal yang baik, dengan kata-kata yang lembut dan menentramkan jiwa Sang Anak. Nasihat yang dimulai dengan “Ya… bunayya…” panggilan sayang dari seorang Ayah kepada anaknya.
Tentu saja Ayah saya tidak sebanding dengan orang sholih seperti Luqman a.s, yang namanya tercantum dalam Al-Qur’an. Tapi saya percaya, bahwa Ayah, dengan segala kekurangan dan kelebihan beliau, selalu berusaha mencontoh orang-orang sholih terdahulu dalam mendidik anak-anaknya.
Pepatah mengatakan, siapa yang menanam, ia akan menuai. Orang tua yang menanam kebaikan kepada anaknya, maka pahalanya mengalir terus menerus selama sang anak mendoakannya. Kebaikan sekecil apa pun yang dilakukan orang tua terhadap anak, sangat mempengaruhi kepribadian anaknya sampai dewasa nanti.
Selain itu biasanya, pola pendidikan dari orang tua akan menurun kepada anak-anaknya. Saya pun ingin mewujudkan episode-episode kecil cinta itu kepada anak-anak saya.
Alangkah indahnya bila dihari akhir, saya bisa berkumpul dengan ayah, ibu dan seluruh keluarga saya di syurga nanti. Seperti yang tercantum dalam ayat ini,
“Dan orang-orang yang beriman, beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka (di dalam Surga), dan Kami tidak mengurangi sedikitpun pahala amal (kebajikan) mereka. Setiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. At-Tuur [52] : 21)
Semoga.
21 April 2007
–mengenang Ayah–
(Hifizah Nur/eramuslim.com)
Download This Article in PDF File with