Home » Akhwat » Indahnya Menjadi Perempuan
Advertisement
Donasi Buku Panduan Bulan Ramadhan

9999 Indahnya Menjadi PerempuanSatu ketika, salah seorang teman pernah mengeluh begini “Lebih enak jadi laki-laki daripada perempuan.” Benarkah? Saya pun menatap sang teman dengan pandangan heran dan kasihan. Pernyataan yang meluncur dari bibir seseorang mampu menunjukkan kualitas batinnya. Ada apakah denganmu, perempuan?

Usut punya usut ternyata ibunya suka memperlakukan tidak adil antara anak perempuan dengan laki-lakinya. Dalam banyak hal, anak laki-laki mendapat perlakuan istimewa dibanding saudari-saudarinya. Misalnya saja dalam hal makan. Anak-anak laki-laki pasti diberi jatah daging ayam yang paling besar dan empuk, sedangkan anak-anak perempuan diberi yang banyak tulang dan kecil. Belum lagi dalam hal pakaian, pendidikan, dan lain-lain. Jadilah sebuah persepsi muncul di benak seorang anak perempuan bahwa menjadi laki-laki jauh lebih baik.

Bukan satu atau dua kasus ditemui di tengah masyarakat tentang perlakuan diskriminatif antara laki-laki dan perempuan. Banyak kasus terjadi sehingga para feminis merasa mendapat angin segar untuk menunjukkan bahwa perjuangannya benar. Fakta di masyarakat tak terelakkan, memang. Tapi apakah sebuah atau beberapa buah fakta itu bisa dijadikan dalil pembenaran?

Advertisement
Pasang Iklan Di Sini

Berpikirlah jernih, wahai perempuan utamanya muslimah. Fenomena seperti contoh kisah di atas terjadi karena ada sesuatu yang salah tertanam di benak sang ibu. Sebuah persepsi bahwa mempunyai anak laki-laki lebih mulia daripada anak perempuan. Sebuah persepsi yang tidak muncul dengan sendirinya. Sebuah persepsi yang dibangun secara turun temurun dan terbina oleh masyarakat tempatnya tinggal. Sebuah persepsi jahiliyah tepatnya, yaitu ketika perempuan dianaktirikan dan terpinggirkan.

Situasi jahiliyah itu tak pantas dilestarikan. Saatnya para ibu, masyarakat, negara dan dunia menengok sebuah aturan yang sangat memuliakan perempuan. Aturan Islam yang berasal dari Sang Maha Pembuat Aturan jawabannya. Perempuan dimuliakan sehingga tak tanggung-tanggung ada surat An-Nisa yang berarti perempuan dan berbicara banyak tentang perempuan juga. Saat ketika Islam datang itulah, hak perempuan terangkat dengan sempurna.

Perempuan yang sebelumnya tak punya hak untuk mewarisi harta tapi malah diwariskan karena dianggap harta benda, menjadi punya hak karena Islam. Perempuan yang semula tak punya suara untuk memilih calon suami, menjadi punya hak memilih dan menolak bila sang calon tak sesuai dengan keinginannya. Perempuan yang semula bodoh, terbelakang, terpinggirkan bahkan dibunuh karena mencoreng keluarga dengan kelahirannya, menjadi istimewa dan terpuji karena Islam.

Lihatlah siapa yang disebut oleh Rasulullah tercinta ketika seorang anak bertanya siapa yang seharusnya dipatuhi. Ibu disebut tiga kali mengalahkan posisi seorang ayah. Begitu indah posisi seorang perempuan dalam Islam.

Ketika berstatus istri, hanya dengan cukup taat dan patuh pada suami selama tidak melanggar aturan Allah, surga balasannya. Begitu mudah, begitu indah dengan Islam.

Ketika mempunyai anak perempuan pun, satu, dua atau tiga, jaminannya surga bagi orang tua yang mampu membesarkan dan mendidik sang anak agar menjadi pribadi yang sholihah. Subhanallah. Lalu di sebelah mananya perempuan mengeluh dan menyesal terlahir sebagai perempuan? Pantas bagi mereka yang terlahir sebagai perempuan tapi tak mengenal Islam untuk mengeluh. Tapi setelah berbagai keistimewaan dan kemuliaan yang diberikan oleh Islam, apakah masih pantas kita sedih karena terlahir sebagai perempuan?

Sekali-kali tidak! Menjadi perempuan itu indah. Menjadi perempuan muslim itu jauh lebih indah. Karena sesungguhnya keindahan yang ada, bukan karena status kelamin yang disandang melainkan aturan siapa yang dipakai. Menjadi laki-laki dan perempuan adalah anugrah. Dan ketika ‘kun fayakun’ Allah menjadikan kita perempuan, yakinlah bahwa jenis kelamin ini yang terbaik bagi kita, pun yang terindah yang pernah kita punya. Maka belajar bersyukur adalah sebuah keindahan lain selain sebagai perempuan yang mempunyai status keislaman dalam diri.

Jangan pernah menyesal menjadi perempuan, karena yakinlah menjadi perempuan itu indah. Bila tak percaya, tanyakan pada seantero penghuni dunia, mereka pasti akan setuju dengan pendapat ini. Tak terkecuali juga para laki-laki. Yakinlah ^_^

Ria Fariana, voice of al Islam
[voa-islam.com]

Download This Article in PDF File with


If You Like "Indahnya Menjadi Perempuan", Share This to Your Friends

Digg
stumbleupon
Delicious
facebook
twitter
reddit
lintasberita
Print Friendly and PDF

Related Post for Indahnya Menjadi Perempuan


  • Umar dan Imam Syafi’i Berbicara tentang Bid’ah Hasanah


    Umar dan Imam Syafi’i Berbicara tentang Bid’ah Hasanah
    Umar dan Imam Syafi’i Berbicara tentang Bid’ah HasanahReviewed by Admin on May 6Rating: 4.5Kata-kata yang sudah sangat masyhur dan telah dianggap berasal dari Umar bin Khottob dan Imam Asy Syafi’i. Sebagaian orang lantas menyangka selama bid’ah itu baik, maka tidaklah masalah diamalkan. Karena bid’ah menurutnya ada yang baik (bid’ah hasanah) dan ada bid’ah yan jelek

  • Sahkah Nikah Sirri


    Sahkah Nikah Sirri
    Sahkah Nikah SirriReviewed by Admin on May 6Rating: 4.5Nikah sirri dalam fiqih kontemporer lebih dikenal dengan istilah nikah ‘urfi (zawaj ‘urfi). Nikah ‘urfi adalah suatu pernikahan yang memenuhi syarat-syarat pernikahan tetapi tidak dicatat secara resmi oleh pegawai pemerintah yang menangani pernikahan (baca: KUA). Dari sini, dapat kita pahami bahwa sebenarnya tidak ada perbedaan yang menonjol

  • Apakah Kau Mengerti Apa Arti Menyayangi Suamimu?


    Apakah Kau Mengerti Apa Arti Menyayangi Suamimu?
    Apakah Kau Mengerti Apa Arti Menyayangi Suamimu?Reviewed by Admin on May 5Rating: 4.5Apakah kau mengerti apa arti menyayangi suamimu ? Ialah ketika … Kau hadirkan dirimu untuknya dalam sesulit apapun keadaan beliau bagimu. Kau dapat dipercayanya, kau menjadi penasehat terdekatnya, dan menjadi tempat beliau membuang uneg- uneg, sehingga di depan orang lain, beliau menjadi orang


blog comments powered by Disqus

YGenNet in Facebook

YGenNet in Twitter