Home » Akhwat » Muslimah » Lestarikan Cemburu yang Syar’i Agar Suami-Istri Makin Harmonis
Advertisement
Donasi Buku Panduan Bulan Ramadhan

 Lestarikan Cemburu yang Syari Agar Suami Istri Makin HarmonisCemburu yang syar’i? Hmm.. ada gak ya? Cemburu apalagi pada diri perempuan biasanya tidak produktif dan tak logis. Cemburu buta, namanya. Tapi bila cemburu bisa dikelola dengan baik dan yang mengelola adalah muslimah shalihah, maka cemburu ini bisa menjadi lampu kuning bagi yang dicemburui (suami) agar langkahnya tidak kebablasan.

Cemburu bukan asal cemburu. Cemburu yang syar’i adalah rasa yang hadir ketika suami terlihat mulai menduakan hati. Bukan pada istri tapi menduakan Ilahi? Emang ada? Ketika suami tetap asyik di depan computer padahal azan sudah berkumandang, istri harus mulai cemburu. Ketika jadwal ngaji tiba suami masih saja belum siap-siap, istri juga harus pasang muka mulai cemburu. Begitu juga ketika kewajiban dakwah harus ditunaikan tapi suami mulai ogah-ogahan, cemburu pun harus segera diberi tempat.

Sebagai istri, kita tak rela bila tujuan utama cinta yaitu Allah SWT diduakan. Bukan diduakan dalam makna sesembahan tapi diduakan ketika prioritas yang wajib tapi malah dinomorduakan. Nah, ini tugas istri untuk bukan sekadar mengingatkan tapi harus cemburu. Bila yang dicemburui masih juga gak nyadar, maka cemburu ini harus diungkapkan. Jangan memakai trik cemburu buta, karena laki-laki (suami) seringkali tak paham dengan makna cemburu yang diungkapkan dalam sikap oleh si istri.

Advertisement
Pasang Iklan Di Sini

Itu dalam hal kewajiban. Bagaimana dengan cemburu ketika mengetahui suami mulai ‘menyerempet’ sesuatu yang berbau maksiat? Misalnya saja dalam hal interaksi dengan lawan jenis. Bukan niat hati untuk bermaksiat, tapi ada kalanya manusia lupa batas syariat ketika hatinya sudah tersentuh. Ada wanita yang ditinggal mati suaminya, anaknya banyak, dan suami berniat membantu. Tapi seharusnya bukan suami yang datang memberi santunan pada sang janda tersebut. Alangkah lebih makruf apabila si istri yang mengantarkan sumbangan agar tidak timbul fitnah. Bila suami lalai, maka istri berhak dan wajib untuk cemburu agar batas syar’i dak dilanggar.

Begitu juga niat suami untuk membantu anak yatim putri yang beranjak remaja. Biar istri yang mengurusi dan suami support dana yang diperlukan. Begitu juga dalam hal-hal lain yang yang sekiranya ada sikap dan perilaku suami yang patut dicemburui karena alasan syar’i. Jangan sampai kita menjadi istri yang acuh tak acuh atau terlalu percaya sehingga kehilangan kewaspadaan terhadap suami. Seshalih apa pun suami, toh ia adalah manusia biasa yang tak lepas dari khilaf dan dosa. Menjadi kewajiban istri untuk mencemburui dan mengingatkan agar suami segera kembali ke rel yang benar. Begitu juga ketika istri mulai khilaf, maka suami pun patut untuk cemburu.

Misalnya saja istri tidak mau menutup aurat. Suami wajib cemburu karena itu artinya istri merelakan keindahan tubuhnya menjadi santapan mata-mata yang tak berhak untuk memandangnya. Suami harus segera bertindak dan tidak membiarkan istrinya keluar rumah tanpa menutup aurat. Dan masih banyak lagi hal-hal yang harus membuat suami cemburu yaitu utamanya ketika istri mulai melupakan kewajiban baik sebagai muslimah secara umum atau sebagai istri dan ibu secara khusus.

Jadi, cemburu antara suami dan istri memang harus ada. Cemburu yang produktif adalah cemburu karena alasan syar’i dan bukan sekadar berdasar perasaan saja. Cemburu jenis ini memang harus dipelihara karena bisa menjaga keharmonisan pernikahan agar tetap di jalan syariat. Selamat cemburu syar’i kepada pasangan. [riafariana/voa-islam.com]

Download This Article in PDF File with


If You Like "Lestarikan Cemburu yang Syar’i Agar Suami-Istri Makin Harmonis", Share This to Your Friends

Digg
stumbleupon
Delicious
facebook
twitter
reddit
lintasberita
Print Friendly and PDF

Related Post for Lestarikan Cemburu yang Syar’i Agar Suami-Istri Makin Harmonis


  • Mengaku atau Tidak, Penganut Ajaran Syiah Tetap Sesat


    Mengaku atau Tidak, Penganut Ajaran Syiah Tetap Sesat
    Mengaku atau Tidak, Penganut Ajaran Syiah Tetap SesatReviewed by Admin on May 7Rating: 4.5Usai bedah buku “Potret Ulama” di Masjid kompleks Darul Hikam wal Ihsan, Bandung, pada Ahad (6/5/2012), KH Athian Ali Muhamad Da’i,  selaku Ketua Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI), menerangkan tentang status para dai yang menyebarkan agama Syiah.   “Mereka yang berkeyakinan terhadap paham-paham

  • Yang Galau Menanti Jodoh


    Yang Galau Menanti Jodoh
    Yang Galau Menanti JodohReviewed by Admin on May 6Rating: 4.5Sebagaimana kematian, rejeki, dan ajal, jodoh adalah rahasia Allah swt yang tidak dapat kita duga kedatangannya. Banyak insan menjadi resah tak berujung, saat usia kian bertambah namun jodoh tak juga datang menghampiri. Sementara di luar sana, teman dan kerabat tak henti bertanya kapan si lajang akan

  • Umar dan Imam Syafi’i Berbicara tentang Bid’ah Hasanah


    Umar dan Imam Syafi’i Berbicara tentang Bid’ah Hasanah
    Umar dan Imam Syafi’i Berbicara tentang Bid’ah HasanahReviewed by Admin on May 6Rating: 4.5Kata-kata yang sudah sangat masyhur dan telah dianggap berasal dari Umar bin Khottob dan Imam Asy Syafi’i. Sebagaian orang lantas menyangka selama bid’ah itu baik, maka tidaklah masalah diamalkan. Karena bid’ah menurutnya ada yang baik (bid’ah hasanah) dan ada bid’ah yan jelek


blog comments powered by Disqus

YGenNet in Facebook

YGenNet in Twitter