Kisah Hati
Ada sebuah tugas yang besar. Sebuah pembuktian. Dari kaum ibu khususnya. Pembuktian yang sesungguhnya tidak terhenti pada sebuah kata bermakna gengsi. Tetapi sebuah karya nyata yang menghasilkan. Ini bicara tentang kehadiran sebuah generasi. Harus bisa hadir generasi-generasi yang membanggakan pengukirnya, yaitu orangtuanya terutama ibu. Mereka yang kelak akan membuat tersenyum sang ibu pada usia senjanya,
Tadinya brother Hasan adalah aktivis Gereja yang sangat sibuk, sejak usia sekolah hingga lulus universitas, dia memang amat aktif di berbagai kegiatan. Suatu hari, ia jatuh cinta, waduh, ia gambarkan suasana hati yang amat fantastis, setiap hari terbayang-bayang ‘si wanita yang dicintai ini’. Perempuan cantik bermata biru yang biasa dilihatnya melalui jendela apartmen, ternyata adalah
Seorang anak batita begitu terheran dengan benda berbentuk lingkaran yang dipenuhi angka-angka. Tiga buah jarum yang menunjuk angka-angka di lingkaran itu pun kian membuatnya tercenung. Ada jarum tipis warna merah yang menunjuk dari satu angka ke angka lain dengan begitu cepat. Ada jarum yang lebih tebal dan lebih panjang yang bergerak lebih lamban. Dan, ada
Saya menganggapnya sebagai guru dan sahabat. Namanya Tatang, tunanetra, tapi tajam sekali mata hatinya. Kami pertama bertemu saat ibadah haji tahun 2010. Saya memijat kakinya yang kram dan kaku sehabis thawaf saat umrah, sejak itu kami bersahabat, sangat rapat. Dia tunanetra, tapi sangat tajam mata hatinya. Berbuat besar, barangkali tak mampu dilakukan orang normal. Mendirikan
Dari Ja’far bin Abdillah bin Aslam berkata, “Tatkala peperangan Yamamah berlangsung dan kaum muslimin berada di tengah medan perang, orang yang pertama kali mendapat luka adalah Abu Uqail. Dia terkena panah pada bagian antara kedua bahu dan dadanya namun tidak meninggal dunia. Kemudian panah itu dicabut sehingga pada siang hari tangan kirinya terasa lemah. Kemudian



