Kisah Hati
Saya merasa beruntung karena apa yang pernah saya niatkan bahwa saya akan berusaha agar setiap kepulangan saya ke Indonesia menggunakan maskapai yang berbeda dapat juga menjadi pengalaman saya. Yah, mungkin hanya menginjakkan kaki di airport, tetapi bagi saya melihat negara yang berbeda dan masyarakatnya adalah sesuatu yang menarik untuk diperhatikan. Kepulangan saya yang pertama ke
Saya terkadang heran dengan diri saya. Dahulu ketika hendak meninggalkan SD, saya berpikir kenapa saya harus berpisah dengan teman-teman yang sudah dekat di hati saya. Saya berpikir kenapa kami tidak satu kelas terus selama kami menuntut ilmu hingga ke jenjang berikutnya. Jadi ketika saya masuk SMP, ada dua perasaan yang bercampur. Pertama adalah rasa senang
Di Tramwajem (kereta api listrik yang cepat dan tertib, di Krakow) yang sudah direnovasi selalu ada beberapa layar televisi yang terletak di langit-langit atas ujung tiap gerbongnya. Para penumpang disuguhi cerita pendek pelawak yang berpantomim, iklan layanan masyarakat tentang info pariwisata, proyek baru kota, peringatan membagi jenis-jenis sampah, dll, atau juga informasi kesehatan dan info
15 menit lagi jam menunjukkan angka 10, saat dimulainya anak-anak SMU ujian. Semua guru -termasuk diriku- pada sibuk beranjak dari tempat duduknya di ruang guru dan mengambil soal ujian serta kertas jawaban di meja ketua pengawas. “Masya Allah, aku dapat mengawas di lantai 4. Bagaimana ini? Dokter melarangku terlalu capek dan naik tangga yang tinggi,
Tulisan indah itu kubaca dengan haru, “Aku berpesan kepadamu untuk membaca kisah hidup orang-orang shaleh; para shahabat Nabi, tabi’in, ahli ibadah dan ahli zuhud dari kalangan ahlussunnah. Berhentilah sejenak pada kabar-kabar mereka. Dan bacalah perjalanan hidup mereka. Karena itu akan memompa semangatmu dan menorehkan kehausan untuk meneladani mereka. Atau setidaknya membuatmu malu terhadap dirimu sendiri.

